Melt My Heart

Melt my heart poster

Melt My Heart
By: Noranitas (@hyukbyair)
Main Cast Kim Hanbin (iKON’s B.I.), Lee Hayi (LeeHi)
Co-Star iKON’s Jinhwan Duration Ficlet (921ws) Genre Romance Rating Teen, G, 13
Disclaimer Original plot+poster by me. Characters not included. Review after you read it.

“When i put on red gloves on your small hand,
I’ll let you hold my hand,
And melt my heart.”

***

“YA KIM HANBIN!” Teriak Jinhwan .
“KIM HANBIN!”
“KIM HANBIN!!!”
Untuk kesekian kalinya Jinhwan berteriak dan untuk kesekian kalinya pula suara nya diabaikan oleh Hanbin. Kesabaran Jinhwan sudah habis, hanya satu cara yang tersisa. Ia harus mengumpat agar Hanbin mau mendengarnya. “YA HANBIN, APA KAU SUDAH TULI HUH?!”
Jinhwan menaikkan suaranya satu oktaf di percobaan terakhir. Usahanya berhasil. Namun Hanbin hanya menoleh. Jinhwan semakin kesal dibuatnya, akhirnya ia memutuskan untuk beranjak kearah Hanbin dan ikut bergabung bersamanya.
Kini mereka berdiri berdampingan. “Oneul mwohae?” Tanya Jinhwan, namun Hanbin hanya meliriknya sebentar lalu kembali memfokuskan pandangannya kembali kedalam ruang latihan tersebut. Merasa diabaikan lagi, akhirnya Jinhwan ikut melihat kearah dalam ruang latihan.
“Akmu? Kau ingin bertemu Chanhyuk?” Jinhwan berhenti sebentar lalu meneruskan “Mereka sedang sibuk latihan untuk Akmu Camp bersama Hayi, Hanbin-ah.” Tutur Jinhwan.
Hanbin menjawab santai “Hyung, Aku sedang melihat Hayi.” Jinhwan melongo sebentar, “Hayi? Sejak kapan kau memperhatikan nya huh?”. Hanbin terlihat kikuk saat mendengar pertanyaan dari Jinhwan
“Hyung. Kau bisa jaga rahasia kan?” Tanya Hanbin. Jinhwan hanya mengganggukkan kepalanya. “Aku..” Hanbin menggantungkan kalimatnya, ragu untuk menyampaikannya. Jinhwan terbawa suasana “Cepat katakan padaku Kim Hanbin. Aku takkan menceritakannya pada siapa-siapa.”
Hanbin menarik napas dalam. Lalu berucap pelan kearah Jinhwan,
“Aku suka Hayi, hyung.”
***
“Ya Pabo!” umpat Jinhwan pada Hanbin. Kini hanya tersisa mereka berdua diruang latihan, member lain sedang asyik menikmati makan siang mereka di kafetaria.
Jinhwan menghela napas, emosi nya tengah meluap-luap hingga runtutan omelan pun keluar dari mulutnya, ”Sudah setahun lebih dan kau harusnya bilang ke Hayi bahwa kau suka padanya selama ini.” “Sebelum ia diambil orang.”
“Aku bingung hyung. Aku tak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkan perasaanku pada Hayi.”
“Kau benar-benar bodoh, Kim Hanbin. Pantas saja kau tak punya pacar selama ini.” Omel Jinhwan, lagi. Lalu ia menambahkan “Ajak ia jalan malam ini, ngobrol sebentar dengannya lalu BAM! Confess your love for her after that! Gentle. Like a man.”
Hanbin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia ragu akan usul dari hyung nya itu, “Aku tak yakin itu akan berhasil hyung.” Jawabnya lagi dengan nada pasrah.
***
‘Naneun dalla… naneun naneun.. nan dalla’
Hanbin masih berusaha untuk menelpon Hayi. Namun hanya nada tunggu yang sedari tadi ia terima. Perasaan gelisah pun semakin menghantui Hanbin. Mulai dari berpikiran tentang rencana Jinhwan yang konyol hingga pikiran bahwa Hayi membencinya dan tak akan pernah sudi untuk menerima telpon darinya.
Mendengar tak ada balasan, Hanbin menekan tombol re-dial.
‘Yoboseyo?’
‘Ah Hayi. Ini aku, Hanbin.’
‘Ya aku tahu. Tumben kau menelponku. Ada apa?’
‘Eu…eng..ka.. Kau ada jadwal malam ini?’
‘I don’t know. Kenapa?’
‘Eu.. itu.. aku ingin minta temani belanja. Make-up untuk ibuku. Sebentar lagi natal.’
‘Oh baiklah. Jemput aku diruang latihan, ok?’
‘Baiklah. See you’
Sambungan telpon diantara mereka akhirnya terputus. Hanbin berkali-kali menarik napas yang dalam, masih tak percaya bahwa ia berhasil mengajak Hayi jalan malam ini walaupun berbohong dengan alasan yang kurang meyakinkan.
Hanbin segera menuju tas yang ia bawa untuk latihan. Melihat apakah ada pakaian bagus tersisa di tasnya yang cocok untuk acara malam nanti. Namun ekspektasi nya tak menemui titik temu. Alhasil ia berlari kencang menuju dorm untuk mengganti pakaian dan berpenampilan sebagus dan serapi yang ia bisa.
***
Dengan snapback hitam, coat hitam selutut dan ripped jeans juga Timberland camel boots kebanggaannya, Hanbin menjemput Hayi sambil mengatur degup jantung nya. Akan memalukan sekali pikirnya jika Hayi dapat mendengar degup jantungnya yang bodoh ini dengan nyaring.
Dikoridor tempat Hayi berlatih, hati Hanbin semakin tak karuan. Ingin rasanya ia lari dan membatalkan rencana nya malam ini. Namun sebagian hatinya ingin sekali menyampaikan perasaan nya pada perempuan pendek itu.
“Oh Hanbin, annyeong.”
Hanbin tersentak. Tak pernah ia tahu bahwa Hayi sekarang sudah berada dihadapannya dan mengajaknya untuk berangkat. Hanbin hanya bisa mengangguk seperti orang idiot karena salah tingkah. Hayi yang melihat raut wajah Hanbin hanya bisa tertawa kecil.
***
Jalanan Myeongdong sedang menggila, dan keputusan Hanbin untuk mengajak Hayi kesini adalah hal yang tak kalah gila. Jika saja Hayi tak mengenakan bucket hat dan scarf tebal, mungkin mereka akan terjebak ditengah-tengah gerombolan yang ingin memotret mereka.
Cukup lama mereka berjalan tanpa membeli apapun. Hayi akhirnya ungkap bicara.
“Sebenarnya make-up apa yang kau inginkan Hanbin?”
“Aku kurang tahu.”
Hayi kehabisan batas kesabarannya. Lelaki ini perlahan membuatnya semakin kesal “Astaga. Kenapa kau baru bilang sekarang. Baiklah, ayo kita belikan ibumu lipstick dan bb cream. Kajja.”
“Hayi.” Hanbin berucap pelan, menghentikan langkah Hayi.
“Huh?” Hayi yang terlanjur kesal hanya menoleh.
“Kesini sebentar.” Hanbin mengambil sesuatu dari saku coat nya. Lalu mengeluarkan sepasang gloves rajutan berwarna merah dan memakaikannya ke kedua belah tangan Hayi. Hayi terkejut sekaligus senang saat menerimanya.
“Oh. Red gloves. Untukku?” Hanbin menggangguk.
Disaat Hayi tengah asyik mengamati gloves barunya, tiba-tiba Hanbin beranjak
“Hayi..”
Hayi menoleh kearahnya “Apa lagi?”
Hanbin semakin mendekat kearah Hayi. Perlahan memeluknya dan menghapus segala jarak diantara mereka. Hayi tercengang, namun tak berkata apapun.
Hanbin berkata pelan ditengah pelukan mereka. Dengan nada lembut dan penuh keyakinan.
“Aku suka padamu”
Hayi seketika membeku. Ia tak tahu harus menjawab apa “A.. apa maksudmu?”
Hayi berusaha melepas pelukan Hanbin. Dan Hanbin melepasnya. Dengan kikuk ia lalu berkata “Ayo kita pulang, aku bisa membeku kalau lama-lama berada disini”
Hanbin hanya tersenyum kearah Hayi yang salah tingkah. Ia juga tahu bahwa Hayi juga memiliki perasaan padanya.
Hanbin memegang erat kedua tangan Hayi. Ikut merasakan kehangatan yang terpancar.
“When i put on red gloves on your small hand, I’ll let you hold my hand, And melt my heart.” Hanbin lalu melanjutkan kalimatnya,
“Please, will you say ‘I Do’?” tatap Hanbin penuh harap.
Hayi balas menatap Hanbin, dengan sebuah senyum mengembang diwajahnya,
“I Do.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s