Lee Hayi Kim Hanbin’s Book

Lee Hayi Kim Hanbin's Book poster

Lee Hayi Kim Hanbin’s Book

By: Noranitas (@hyukbyair)

Main Cast iKON’s B.I. (Kim Hanbin), LeeHi (Lee Hayi) Genre Riddle, Angst Duration Ficlet Rating PG-15 G

Disclaimer MY SECOND RIDDLE! I wrote it bc I don’t really impressed by the previous one (Erotomania). Review and Answer are extremely welcome you dear lovely readers!!! ^^

|
|

“Kau marah padaku? Atau kau kesal akan suatu hal?”

“Ayolah…. Cerita padaku. Aku janji tak akan mengumbarnya. Bahkan dengan Jiwon sekalipun.”

***

Tinta bolpoin terus menggoreskan kata diatas lembaran kertas putih buku tulis. Aku terus menulis apa yang kualami hari ini. Dari bangun tidur, naik bus, sarapan di kelas, hingga menuliskan keadaan pelajaran bahasa Inggris yang tengah berlangsung sekarang. Ini semua kulakukan karena kau memintanya.

‘Tulislah dibuku tulismu. Agar aku juga bisa membacanya’ aku ingat benar kau pernah berkata ini.

Sabarlah Hanbin. Aku tengah menuliskan paragraf terakhir untuk kegiatan sore ini. Sesekali aku mencuri pandang kedepan, melihat-lihat apakah guruku sadar bahwa seorang muridnya tak memperhatikan pelajaran. Dan syukur, beliau tak menyadarinya.

Hanbin memang keras kepala. Juga tak pernah mau bersabar. Ia selalu menagih bukuku dimalam hari. ‘Aku melakukan ini supaya mulutmu tidak lelah Hayi’. Lelah apanya. Aku lebih memilih untuk berbicara dibandingkan menulis. Tangan ku lelah, bahkan tremor menghinggapi tanganku sesekali.

Kelas ku berakhir dipukul 18.00. Aku terlambat pulang hari ini, tetapi aku terlalu malas untuk menambahkan nya dibuku tulis bertuliskan “Lee Hayi Kim Hanbin’s Book” pada sampulnya itu. Toh Hanbin juga tidak mengetahui nya. Dijalan pulang, aku berhenti didepan rumah nya Hanbin, satu rumah sebelum rumahku.

Kuletakkan buku tulis didalam kotak pos ditaman rumah Hanbin. Hanbin akan mengambilnya nanti, dan membalas tulisanku dilembar selanjutnya. Pagi hari keesokannya barulah buku itu kembali padaku. Itulah kebiasaan kami.

***

Hari ini hari minggu. Itu artinya aku bisa menulis lebih sedikit dari hari lainnya. Saat ingin mengambil bukuku, ibu Hanbin kebetulan sedang menyirami tanaman di halaman rumahnya.

Omoni, Annyeonghaseyo.” Ketika kusapa, ibu Hanbin hanya tersenyum. Tak biasanya ibu Hanbin seperti itu. Pikirku. Kelihatannya beliau tidak dalam mood yang bagus. Aku pamit pulang dan ibu Hanbin hanya menggangguk. Aneh.

Setelah sampai dikamar, segera kubuka buku tulis ku. Membolak halaman demi halaman buku dengan semangat. Tak sabar untuk mengetahui balasan apa yang akan ditulis oleh Hanbin. Namun rasa excited ku ditelan oleh kekecewaan. Hanbin, lagi-lagi tak menulis balasan dari kegiatan yang kutulis.

Yak! Kim Hanbin…

Kau marah padaku? Atau kau kesal akan suatu hal?

Ayolah…. Cerita padaku. Aku janji tak akan mengumbarnya. Bahkan dengan Jiwon sekalipun.

Setelah kelar menulis, kuantar lagi bukuku kerumah Hanbin. Bukan lagi diletakkan di kotak pos, tapi aku sendiri akan mengantar ke kamarnya, ya, ke kamar Hanbin.

Ibu Hanbin mempersilahkan aku menuju kamar anak sulung nya. Ku edarkan pandanganku menyeluruh ke seisi kamar Hanbin, ia sedang duduk di meja belajarnya. Sibuk mendengarkan sebuah lagu dari headphone nya.

“Hanbin, kau marah ya padaku?” Hanbin bergeming. Bahkan volume dari headphone nya mencuat ke indera ku. “Ayolah cerita padakuuuu!!!! Junhong memukulmu lagi kan?” lagi-lagi Hanbin hanya diam menikmati musik. Seolah aku tak pernah berada dikamarnya.

Kini aku bosan bertanya dan keyboard yang ada disamping Hanbin menarik perhatianku. Ku tari kan jemariku diatas tuts. Akhirnya Hanbin menoleh kearahku.

“Pulanglah. Akan kubalas isi bukumu nanti.” Senyum menggantung diwajahku ya aku bisa merasakannya. Dengan cepat kuambil bolpoin

Baiklah. Ingat! Cerita padaku masalah Junhong. Akan kupukul kepalanya nanti saat kita bertemu dengannya!

“Maafkan aku. Lagu mu belum selesai . semua karena hal sialan ini.” Ucap Hanbin. Aku hanya terkekeh kecil mengingat janjinya setengah tahun lalu. Bilang dengan gembor bahwa ia ingin membuat lagu untukku. Apalah daya, lagu itu tak pernah selesai.

***

Hari senin. Aku membencinya.

Aku yakin, buku tulisku hari ini akan dipenuhi makian akan betapa membosankannya hari senin bagiku. Tiga lembar halaman buku tulis pun tak ada rasanya jika sudah menulis tentang hari yang kubenci ini.

Melewati rumah Hanbin aku bergegas lari ke kotak surat.

Bukan buku yang kutemukan hari ini. Bingung lantas ku tekan tombol play pada benda itu. Suara Hanbin mulai meresapi telingaku.

‘Hayi-ah. Lee Hayi. Aku bawa bukumu boleh? Sebagai gantinya kau boleh memiliki recorder ini. Harganya mahal. Jaga baik-baik! Dan selesaikanlah lagumu sendiri. Aku sudah tak mampu. Jangan menangis…..’

Setelah itu suara Hanbin menghilang, digantikan oleh petikan nada gitar tak beraturan. Setelahnya bait-bait yang kuingat betul terlantun dari recorder.

Manik-manik kristal air mengalir dari mataku. Tak mampu menahan emosi.

End

Author’s note : Break the Case! “What happen to Hanbin exactly?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s