909 (p.s: I love you) [Kang Seungyoon]

909 poster 3

909 (p.s: I love you)

By Noranitas

Main cast WINNER’s Kang Seungyoon, OC Genre Romance Rating PG-15, G Length Oneshot

Happy reading!

|

“ I cannot believe the destiny”

“909. The bus when our love meets”

***

Seungyoon tak pernah tau bahwa bus yang saat ini ia tumpangi bukanlah bus yang akan mengantarkannya pulang kerumah.

Semua ini gara-gara ia harus menulis ulang semua tugas partitur yang belum ia revisi kembali pada guru musik nya. Ia terlalu mengantuk, alhasil ia tertidur saat menunggu bus nya -bus 309- datang menjemput di halte depan sekolah.

Seungyoon masih nyenyak terlelap di bus. Tak lama ia merasakan seseorang duduk menempati bangku didepannya. Tanpa disadari, mata Seungyoon perlahan mengerjap terbuka. Kantuknya terasa hilang seketika. Rasa ingin tahu menelan semua kantuknya.

Seseorang tadi –ia perempuan- kini menyita semua perhatian Seungyoon. Dilihat dari seragam yang ia pakai, Seungyoon yakin ia adalah murid dari SMA Hanlim, SMA yang terpisah beberapa blok dari sekolahnya.

Perempuan itu mengenakan coat berwarna nila dengan kancing dibuka seluruhnya. Tetapi bukan coat-nya lah yang membuat Seungyoon bingung, ada yang salah dengan wajahnya.

Wajahnya pucat dan ada sedikit bekas lebam disudut bibirnya’ ucap Seungyoon dalam hati.

Mungkinkah ia gangster? Atau anak elite yang sering dibully oleh teman sekelasnya?’ ‘Atau ia adalah perusak hubungan orang sehingga ia dipukuli seperti itu?’. Banyak sekali pikiran yang notabene tidak masuk akal saat Seungyoon melihat keadaan perempuan itu.

Ahjussi, tolong turunkan aku ditempat biasa”

Akhirnya si perempuan, untuk pertama kali nya sejak-Seungyoon-menyadari-keberadaannya berbicara pada supir bus. Seungyoon mengalihkan pandangan kejalan yang ada didepannya, namun ia tak melihat ada halte bus atau sebagainya.

Bagaimana bisa perempuan ini mau turun seenaknya’ Seungyoon berkata dalam hati nya lagi.

Supir bus perlahan menepi kepinggir jalan raya dan berhenti persis didepan sebuah mart kecil yang terletak disebelah kiri perempatan. Perempuan itu perlahan turun dari bus. Seungyoon bisa melihat si perempuan menundukkan kepalanya sambil bergumam “terima kasih” pada sang supir bus yang hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

Akhirnya perempuan itu membalikkan badannya dan perlahan berjalan menuju sebuah kompleks apartemen menjauhi mart tempat ia turun tadi. Seungyoon masih tak bisa melepas pandangannya dari punggung perempuan yang kian menjauh itu.

Saat bus berbelok menuju rute selanjutnya, Seungyoon merasa ada yang tak beres dengan bus yang ia tumpangi saat ini. Buktinya, daerah yang ia lalui sepersekian menit ini bukan lah daerah yang sering ia lalui saat pulang menuju rumahnya.

Dengan ragu Seungyoon bertanya pada si supir,

“Ah chogiyo ahjussi, tapi bisa kau beri tahu saat ini kita sedang berada dimana?”

Si supir merasa bingung saat mendengar pertanyaan Seungyoon, namun ia jawab dengan santai “Ini Insa-dong, waeyo?”

“Hah?! Bagaimana bisa ini Insa-dong? Bukannya ini bus rute Sangsu-dong?” Seungyoon terlihat panik

“Ya imma! Jika kau ingin ke Sangsu-dong, kau harus naik bus 309.”

Seungyoon semakin panik “Ta.. tapi.. aku sekarang naik bus 309 kan?”

“Ini bus 909.”

Seketika Seungyoon kelihangan kata-kata. Ia sadar selama ini ia berada di bus yang salah dan harus berjalan memutar jauh untuk sampai kerumahnya di Sangsu-dong.

Aish jika saja aku tak memerhatikan perempuan itu, aku tak mungkin harus memutar sejauh ini untuk bisa pulang kerumah! Aish!’ Umpat Seungyoon.

***

“RUTE BUS 309 DAN 409 UNTUK SEMENTARA DITIADAKAN KARENA ADANYA PROYEK PERBAIKAN HALTE 309 DAN 409. ATAS PERHATIANNYA KAMI UCAPKAN TERIMA KASIH DAN MAAF ATAS KETIDAKNYAMANAN ANDA UNTUK SEMENTARA WAKTU”

Seungyoon hanya bisa termangu setelah melihat papan pengumuman didepannya.

Kini hanya ada 3 pilihan untuk bisa pulang kerumahnya.

Pertama, ia harus menaiki bus 509 yang rute nya tidak terlalu jauh dari rumahnya sehingga ia tak perlu untuk memutar jauh. Yang kedua, menaiki bus 909 dengan rute yang tentunya lebih jauh dari bus 509 sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuknya sampai kerumah. Atau pilihan ketiga, berjalan kaki hingga sampai kerumah.

Seungyoon memutar kembali otaknya. Tak mungkin ia pulang berjalan kaki, sehingga ia memutuskan untuk pulang menaiki bus. Namun rute 509 hanya tersedia di jam kerja, dan sekarang jam kerja sudah lama berakhir. Akhirnya dengan berat hati, Seungyoon menaiki bus 909 karena itulah pilihan yang tersisa.

Lumayan lama Seungyoon menunggu kedatangan bus 909. Hampir setengah jam dan akhirnya bus itu datang menyinggahinya.

Seungyoon tercengang sebentar dengan pemandangan didalam bus.

Hanya ada satu penumpang yaitu perempuan yang kemarin ia lihat. Seungyoon kemudian memilih duduk di bangku nya tempo hari. Tepat dibelakang perempuan tadi duduk.

Hari ini ia tak mengenakan coat ataupun outer. Hanya seragam dengan kemeja panjang juga rok diatas lutut.

Apakah ia tidak merasa dingin?’

‘Huh gila saja disuhu seperti sekarang ia hanya memakai pakaian tipis seperti itu’

‘Apa ia tidak kedinginan?!’

‘Perempuan ini gila’

Seungyoon bergumam cukup keras sehingga perempuan didepannya –perempuan yang sedang menjadi objek gumamannya- menoleh kearahnya.

Seungyoon tak sadar akan hal ini hingga suara seseorang mengganggu gumaman nya.

”Apa yang sedang kau bicarakan?”

Seungyoon terkejut “Huh? Tidak ada apa-apa”

“Kau menyebutku gila” perempuan itu berkata datar

“Ah.. ah.. itu. Itu bukan kau. Tenanglah itu bukan kau sumpah” Seungyoon menjawab dengan terbata-bata. Takut jika perempuan itu sadar bahwa ia tengah berbohong.

Namun ekspektasi Seungyoon berbanding jauh dengan kenyataannya. Perempuan tadi hanya diam mendengar jawaban Seungyoon dan setelahnya kembali berbalik menghadap kedepan, layaknya posisi sebelum ia bicara dengan Seungyoon.

“Yunha, kau sudah sampai” ucapan sang supir menyadarkan Seungyoon. Perempuan itu bergegas turun dari bus sembari memberi senyuman kepada pak supir.

Lagi-lagi, Seungyoon tak dapat menjaga jarak matanya jauh dari memandang sosok perempuan yang kini setengah berlari menjauhi bus.

“Chogiyo ahjussi..” Seungyoon memberanikan diri untuk bertanya pada pak supir.

“Wae??”

“Perempuan itu…”

“Oh Yunha! Kenapa? Kau kenal?” si supir balik bertanya pada Seungyoon dengan santai sambil tetap fokus mengendara.

Aniyo. Aku hanya penasaran kenapa ahjussi menurunkannya ditempat itu –mart kecil di perempatan- kenapa tidak di halte, ahjussi?”

“Geunyang..” jawab sang supir santai

“Ya ahjussi! Kenapa sih kau tidak adil begini. Kalau begitu turunkan aku didepan jalan 08 Sangsu-dong agar aku tak perlu berjalan jauh dari halte menuju rumahkuSeungyoon mengeluarkan segala unek-uneknya

“Enak saja kau”

Seungyoon hanya bisa manyun dibuatnya. Sekelebat terngiang kembali suara perempuan itu dikepalanya. Terus terputar hingga tanpa disadari oleh Seungyoon, sebuah senyum kecil tersangga dibibirnya.

***

Papan pengumuman perbaikan halte 309&409 sudah bertengger hampir 7 bulan. Posisi nya tak sesempurna dulu. Terkadang miring kekanan, jika hujan mendera, papan akan miring kekiri. Papan tersebut seharusnya sudah dicabut 6 bulan yang lalu, para pekerja proyek itu rupanya malas untuk melepasnya.

Bagaikan sebuah kebiasaan, kini Seungyoon sudah terbiasa untuk pulang dengan bus 909 dan tentunya juga terbiasa untuk melihat Yunha, Yoon Yunha.

Bukan. Mereka bukan dalam sebuah hubungan serius.

Ini hanyalah perasaan Seungyoon semata, rasa penasaran yang terlanjur untuk berubah menjadi rasa ingin memiliki. Berawal dari rasa kesal karena tak diperlakukan adil oleh pak supir, membuat Seungyoon bertanya-tanya akan jati diri Yunha sebenarnya. Hingga rasa memiliki itu tiba. Tetapi ia tak pernah menanyakan sebuah balasan ataupun hal lainnya dengan Yunha.

Perempuan yang dilihatnya dihari pertama mereka bertemu. Perempuan dengan coat berwarna nila dengan kancing dibuka seluruhnya, wajah pucat dan sedikit bekas lebam disudut bibirnya. Seungyoon tak pernah lupa akan detail-detail kecil tersebut. Perempuan yang ia kira adalah bagian dari gangster ataupun iljin, ternyata seorang gadis polos dengan luka robek dihatinya. Hidup sebatang kara, diabaikan oleh orang-orang yang membuatnya hidup kedunia ini.

Bukan rentetan alasan diatas lah yang membuat Seungyoon iba dan berakhir jatuh hati pada Yunha. Melainkan Yunha berbeda. Ia jelas berbeda. Walau polos, ia tidak bodoh. Justru sebaliknya, Yunha adalah perempuan yang cerdas. Dan Seungyoon ingin membuat Yunha sembuh dari penyakitnya, penyakit tidak-bisa-membuka-hati-pada-dunia.

Yunha hanya diam setelah mendengar pengakuan dari Seungyoon akan perasaan lelaki itu 3 bulan lalu. Ia tidak menjawab nya dan Seungyoon toh juga tak ingin meminta jawaban, semata-mata hanya mengutarakan saja. Jadi Yunha memilih untuk acuh. Kini mereka menjalani kehidupan seperti biasanya.

Saat ini Seungyoon tengah asyik menceritakan tentang bagaimana kacaunya kelas orchestra nya tadi siang kepada Yunha. Yunha mendengarkan sambil sesekali tersenyum tipis saat Seungyoon meminta sebuah respon darinya.

Yunha tak pernah tahu kenapa ia bisa untuk mau melakukan hal-hal tak penting seperti ini dengan Seungyoon. Ia sungguh tak tahu.

“Oy Yunha!”

“Eung?” Yunha tersadar dari lamunannya

“Mau kuantar pulang?” Tanya Seungyoon tiba-tiba. Kemudian ia menoleh keluar jendela “Hari nya sudah gelap. Aku takut kau akan diculik penjahat”

“Mana ada..”

“Aissh! Kau tak boleh begitu Yoon Yunha. Siapa tahu ada orang yang berniat jahat padamu. Otte?”

Seungyoon tetap bersikeras hingga membawa-bawa nama penjahat. Yunha sudah tak kuat lagi untuk melawan rentetan kata dari Seungyoon hingga ia memutuskan untuk menyerah.

“Baiklah.”

Sudut-sudut bibir Seungyoon terangkat. Senyumnya lebar sekali setelah mendengar respon dari Yunha. Ini salah satu hal terhebat yang pernah ia alami. Ia berhasil membujuk Yunha untuk mengantarnya pulang. Setelah hampir 6 bulan ia menunggu momen ini. Mungkin kalian dapat mengukur senyum Seungyoon dengan penggaris –saking lebarnya-.

***

“Pulanglah”

Seungyoon heran. Baru dua puluh langkah kaki mereka menjauh dari mart kecil di perempatan dan Yunha sudah mengkomandonya untuk pulang.

“Aku bisa jalan sendiri dari sini.”

Tanpa menunggu jawaban Seungyoon, Yunha sudah berbalik dan melangkahkan kakinya agak cepat menuju apartemen. Meninggalkan lelaki itu.

Seungyoon masih tak mengerti keadaan yang tengah dialaminya, lantas ia berlari mengejar Yunha. Yang dikejar kini semakin mempercepat akselerasi kakinya.

BRAK!

Pabo” rutuk Yunha.

Kakinya tersandung batu dan membuatnya jatuh. Darah mengalir dari lututnya. Melihat Seungyoon berlari kearahnya, Yunha semakin panik. Perempuan itu mencoba berdiri dan lari, namun pedih dilututnya semakin menjadi.

Laki-laki itu sudah sampai disamping Yunha. Tak mengeluarkan banyak kata –layaknya yang ia lakukan selama ini- dan langsung menutup luka Yunha dengan sapu tangan miliknya. Diikatnya kuat luka tersebut agar tak mengeluarkan lebih banyak darah.

“Cepatlah naik kepunggungku.”

Hanya kalimat tersebut yang terucap dari Seungyoon. Namun Yunha menolak. Ia bersikeras untuk berjalan sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Seungyoon marah dan langsung menarik badan Yunha. Menyuruhnya naik kepunggung lebarnya dan diam. Yunha tak mampu mengelak, keadaan nya kini sangatlah lemah. Ia naik kepunggung Seungyoon.

Setelah sekian lama bungkam. Dengan perempuan yang ia cintai dipunggungnya, Seungyoon akhirnya membuka mulutnya “Dimana rumahmu?”

“Orchard.” Jawab Yunha singkat dalam posisi kepala tertunduk. Sepenuhnya terbenam disela leher dan bahu lebar milik Seungyoon.

“Lantai keberapa? Nomer berapa?”

“7. Nomer 74.” Jawaban Yunha kini terdengar hanya sebatas gumaman.

Keduanya kembali terdiam. Suara gesekan langkah sepatu Seungyoon yang menghantam permukaan aspal terdengar jelas. Seungyoon merasa bahunya basah. Ia tahu perempuan itu kini menangis.

“Yunha, mau kuceritakan suatu kisah?” tak ada respon. “Baiklah aku akan cerita.” Seungyoon mengambil nafas. Langkah kakinya pun stabil. Tidak melambat ataupun dipercepat.

“Ada seorang anak SMA. Ia lucu sekali. Kenapa? Ia tertidur dihalte saat menunggu bus kerumahnya datang. Saking mengantuknya ia salah naik bus, Yunha.” Seungyoon dapat mengetahui bahwa perempuan itu berhenti terisak.

“Lalu ia kembali melanjutkan tidurnya dibus. Tak lama setelah itu seorang gadis duduk didepannya. Si anak laki-laki itu lalu tersadar, ia berhenti mengantuk gara-gara melihat penampilan gadis itu. Gadis itu memakai coat berwarna nila dengan kancing terbuka seluruhnya. Wajahnya pucat dan sudut bibirnya lebam. Laki-laki itu ketakutan, Yunha! Ia pikir gadis itu iljin. Dan sepengetahuan si anak laki-laki, iljin dari SMA Hanlim adalah iljin ter-mengerikan sepenjuru kota Seoul. Ia berusaha untuk pindah duduk menjauhi si gadis.”

Yunha lambat laun menyimak cerita Seungyoon. Angin malam berhembus kearah keduanya.

“Namun senyum yang diperuntukkan si gadis untuk pak supir bus membuat si anak lelaki sadar, Yunha. Bahwa gadis itu bukanlah iljin ataupun gangster. Gadis itu terlihat lemah. Itu hanya tampilannya saja. Ia sebenarnya gadis yang kuat seiring si laki-laki mengetahui diri sang gadis lebih dalam.”

“Luka yang dalam. Merasa jera dan tak ingin membuka pintu, baik pintu rumahnya ataupun pintu hatinya sendiri untuk orang lain. Si anak laki-laki itu ingin menyembuhkan nya Yunha. Ia tak ingin melihat si gadis yang terlanjur ia sayangi, terpuruk dalam masa lalu. Selalu merasa bersalah akan perginya kedua orangtuanya yang hanya meninggalkan sedikit tunjangan untuk kehidupannya.”

Seungyoon hendak melanjutkan kembali kisahnya, namun suara Yunha mencegatnya untuk bertindak.

“Hentikan Kang Seungyoon.”

“Tidak, Yunha.” “Anak laki-laki itu ingin mengucapkan sesuatu pada sang gadis.”

“Hentikan.”

Langkah kaki Seungyoon terhenti.

“Anak laki-laki itu, Kang Seungyoon namanya. Ia bilang bahwa ia mencintai gadis itu, gadis yang namanya Yoo Yunha dengan sepenuh hati.”

“Karena Yoo Yunha lah. Kang Seungyoon rela naik bus 909 sepanjang waktu terakhir. Rela memutar jauh menuju Sangsu-dong. Rela berjalan kaki 20 menit dari halte. Rela ganti bus berkali-kali jika bus 909 tak lagi singgah. Rela melukai sepatu Nike favoritnya demi membuntuti Yoo Yunha pulang. Rela menyisihkan uang jajannya demi mengisi kartu transport. Rela dimarahi ibunya karena pulang larut setiap hari. Rela menghabiskan waktu bermainnya dengan tidur dikelas karena waktu tidur malamnya terpotong akibat memikirkan gadis bernama Yoo Yunha. Rela terkena flu karena sering terkena angin malam.”

Seungyoon terdiam sebentar. Yunha tak dapat berkata apa-apa lagi dipunggung Seungyoon. Yunha sibuk menahan air matanya. Shock mendengar penjelasan panjang dari laki-laki ini.

“Semua itu rela ia lakukan demi seorang gadis bernama Yoo Yunha.”

“Ia sungguh mencintai Yoo Yunha. Dari lubuk hati terdalam.”

“Tanpa latar belakang kasihan ataupun iba. Simpel, ia hanya tulus mencintainya.”

Angin malam tepat menghembus punggung Seungyoon. Orang yang sedari tadi ia gendong sudah menjatuhkan diri kejalanan. Berusaha berdiri dan memanggil Seungyoon yang kalut.

“Seungyoon-ah”

Seungyoon langsung berlari kearah nya. Merasa bersalah karena telah melepas kedua tangannya yang berfungsi untuk menyangga badan Yunha. Namun bukan itu masalah terpenting. Yunha. Kini Yunha menangis.

“ Maafkan aku Seungyoon.”

“Maafkan aku Seungyoon.”

Perempuan itu kembali berucap. “Maafkan aku Seungyoon.”

” Maafkan aku Seungyoon.”

“Maafkan aku Seungyoon.”

” MAAFKAN AKU SEUNGYOONAHHHH”

Untuk pertama kalinya sejak Seungyoon mengenal Yunha, inilah teriakan pertama yang ia dengar dari perempuan itu. Teriakan tersebut bercampur padu dengan lelehan air mata. Meminta maaf pada dirinya. Walaupun Seungyoon tak tahu apa salah perempuan ini padanya.

“Maafkan aku Seungyoon. Maafkan aku yang tak mau membuka diriku padamu. Maafkan aku yang telah mengabaikan hatimu. Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku.”

Ucap Yunha terbata. Jujur dari hati kecilnya, ia juga menyukai Seungyoon. Seungyoon lah yang dapat membangkitkan semangat hidupnya kembali.

Yunha sudah siap untuk bunuh diri karena frustasi dengan kehidupannya dan rencana nya akan berjalan lancar jika saja ia tidak dikatai orang gila oleh Seungyoon kala musim dingin yang lalu. Dari perkataan Seungyoon dihari itu, ia sadar bahwa masih ada orang yang memperhatikannya. Mengamatinya. Dan berharap ia menjadi bagian dari hidup mereka.

“Maafkan aku Kang Seungyoon.”

“Dan aku juga mencintaimu Kang Seungyoon.”

Kata-kata terakhir Yunha membuat dunia Seungyoon terasa terbalik. Gadis lemah itu membalas perasaannya.

Seungyoon tak memerlukan satu dua kata untuk membalas ungkapan Yunha.

Ia memeluk erat Yunha dalam dekapannya. Memberikan kehangatan ketubuh dingin gadis lemah itu.

“Terima kasih Yoo Yunha telah membalas perasaan Kang Seungyoon.”

“Terima kasih telah membalas hatiku, Yunha.”

Dikecupnya kening si perempuan. Lalu kembali memeluknya erat. Berusaha menjahit robekan hati si gadis yang telah lama terbuka.

End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s