Eyes, Nose, Lips

10911249_661124657330105_8864513666321002433_o

Eyes Nose Lips

Cast iKON’s B.I (Kim Hanbin), LeeHi (Lee Hayi) Genre Romance, Hurt/Comfort, AU Length Oneshot (3025 words)

Disclaimer im not doing any background check before for what-exactly-happened-on-19801981-in-korea so this story purely mine. The similar storyline in another fic were actually mine too. You can check it by yourself by reading the author’s name.

|

|

I’m sorry.

My selfishness that can’t let you go. It became an obsession and trapped you.

Were you hurt beside me? You sit silently.

Like a fool, I can’t erase you.

***

Author POV

Juni 1980

Hayi masih menggenggam tangan Hanbin. Mengepalkan tangan kecilnya kepermukaan tangan Hanbin yang jauh lebih lebar dari punyanya.

Semakin mendekati bangunan besar itu, tangan Hayi semakin erat menggenggam tangan Hanbin. Hanbin menerima sekaligus menikmati semua perhatian walaupun hanya afeksi kecil dari teman karibnya ini selagi ia masih bisa, karena sebentar lagi ia akan berpisah dengan perempuan berkepang itu. Ia tak mengucapkan sesuatu barang sepatah kata pun walau genggaman tangan kecil Hayi mulai menyakiti punggung tangannya.

Seiring berjalannya waktu, mereka pun sampai dibangunan besar itu, Gedung Pusat Pendidikan Militer. Hayi tak kuasa menahan tangisnya karena tak lama lagi, temannya, Kim Hanbin, akan belajar ditempat tersebut dan tak akan bermain bersama nya lagi setelah pulang sekolah hingga senja menjemput mereka.

Hanbin tahun ini genap berusia 12 tahun dan ia harus dimasukkan kedalam pendidikan militer karena peraturan Negara akan ancaman serangan musuh kian melanda. Mau tak mau Hanbin harus mengikuti semua ini karena ia juga bagian dari Negara tempat ia dilahirkan.

Hayi kini memeluk erat Hanbin yang juga membalas pelukan dari perempuan itu.

Pelukan mereka semakin erat, seakan tak pernah bisa lepas, bagaikan menempel satu sama lain. Ditengah pelukan itu, mereka berdua saling bergumam. Sama-sama mengucapkan janji, bertukar janji, dan berikrar agar tak ada yang melanggar janji yang telah mereka buat.

Seorang petugas dengan perawakkan tinggi dan tegap keluar dari bangunan itu dan mengisyaratkan agar semua anak yang terdaftar melakukan pemeriksaan identitas bagian akhir sebelum mereka bisa masuk kedalam sekolah.

Ibu Hanbin telah berulang kali meminta Hanbin untuk menyudahi kegiatan berpelukan antara dirinya dengan Hayi, tetapi ia menolak. Ini kali terakhir ia bisa dekat dengan teman karibnya. Ia hanya ingin pelukan ini dapat menjadi obat yang bertahan lama karena mereka berdua akan terpisah dalam waktu yang lama dan tentunya pasti akan merindukan kehadiran satu sama lain.

Lagi-lagi sang petugas berteriak nyaring menyuruh anak-anak yang belum masuk antrian agar segera bergabung.

Ayah Hanbin dengan terpaksa menarik Hanbin dari Hayi dan mengantarnya masuk kedalam barisan. Hayi menjadi emosional, berakhir dengan ditenangkan oleh ibunya Hanbin.

Melihat Hanbin yang telah memasi barisan, Hayi rasanya ingin berlari masuk kedalam barisan itu dan menarik tangan laki-laki itu, lalu berlari sejauh yang mereka bisa dari tempat ini. Namun ia tak sekuat dan tak seberani itu. Faktanya, ia hanya gadis kecil yang lemah.

Hanbin kini sampai pada bagian pemeriksaan. Selagi identitasnya diperiksa, ia mencoba menoleh kebelakang hanya untuk melihat Hayi. Ia melihat gadis kecil itu menangis nyaring meneriakkan namanya. Manik-manik air mata tak terasa jatuh dari matanya ia menangis.

“Hey nak. Kau boleh masuk.”

Ucapan sang petugas membuat Hanbin menoleh. Ia lalu mengangguk dan membawa semua barang nya masuk.

Untuk terakhir kalinya ia menoleh kebelakang, berusaha mencari sosok yang meneriakkan namanya itu, lagi. Dan ia menemukannya.

Hayi juga menangkap pandangan mata Hanbin dari kejauhan. Dan saat itu, Hanbin hanya bisa memberinya sebuah senyuman. Seolah-olah memberi tahu Hayi bahwa ia baik-baik saja. Hayi membalasnya dengan senyuman yang bermakna sama, namun dengan lelehan air mata dan sedikit isakan kecil yang tersisa.

Punggung Hanbin sudah tak terlihat lagi di pandangan mata Hayi. Sekali lagi ia menangis.

Ajakan ibu Hanbin untuk pulang kerumah menghentikan air mata nya sebentar. Kini ia tengah berada di dalam mobil keluarga Hanbin dan duduk dibangku penumpang sambil menatap sisi jalan dari jendela.

Sekali lagi, ia menangis karena telah merasa kehilangan sebagian pelengkap dari kehidupannya , Kim Hanbin.

***

Minggu ke-2 November 1985

Hayi berlari kecil menuju toko roti yang berada di ujung jalan. Ia terus berlari dan tak memperhatikan bahwa ia sekarang masih memakai rok sekolahnya.

Hayi adalah seorang siswi yang kini mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Khusus Perempuan. Ia mengambil bidang kejuruan bisnis rumah tangga sederhana, karena ia rasa ia cukup jago dalam hal seperti itu.

Hayi tengah berjalan riang pulang menuju rumahnya sambil menenteng tas kertas berisikan baguette yang baru matang dari pemanggang. Baguette tersebut adalah objek terpenting dari tugas semester Hayi berikutnya. Hayi masih berjalan sambil bersenandung pelan hingga sebuah rentetan suara gerombolan laki-laki terdengar dari arah berlawanan.

Hayi tahu bahwa suara itu berasal dari kumpulan tentara yang rutin patroli setiap hari jumat disekitar lingkungan rumahnya, namun hari ini ia terlambat untuk menghindar.

Beberapa tentara dari gerombolan itu tak sengaja menyenggol bahu Hayi saat berpapasan. Hayi menggigit bibirnya, menahan emosi. Hingga tentara terakhir menyenggol bahunya agak keras sehingga baguette yang ia beli barusan jatuh menyapa tanah. Hayi tak mampu lagi meredam amarahnya, saat itu juga ia meledak.

“Ya 5239! Berhenti kau!” teriak Hayi kearah tentara terakhir yang tadi menabraknya.

Sang tentara terlihat menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan dari Hayi lalu menoleh kebelakang menuju sumber suara.

“Kau telah menjatuhkan baguette ku. Ini adalah tugas dari guruku. Kau harus ganti rugi!” Hayi masih meneriaki tentara itu. Tentara tadi awalnya ragu untuk menghampiri Hayi. Tetapi, atas bujukan teman-temannya akhirnya ia berani untuk mendekat kearah Hayi.

“Maafkan aku. Berapa aku harus membayar biaya roti mu?” Tanya tentara tadi pada Hayi.

Kini tentara itu membuka kaca helm nya sambil berbicara menuju Hayi. Pandangan tentara itu seutuhnya masih tertuju pada dompetnya.

Hayi seolah tak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya sekarang. Ia masih terkejut sehingga tak bisa menjawab pertanyaan dari tentara itu tadi.

Hayi masih menatap orang yang ada dihadapannya. Saking terkejutnya, ia sampai melupakan soal baguette yang jatuh tadi.

Chogiyo, berapa aku harus ganti rugi?” pandangan tentara itu kini lurus menatap Hayi yang masih diam karena terkejut.

Tentara itu kini juga merasakan hal yang dialami Hayi. Mereka sama-sama terkejut setelah melihat rupa satu sama lain.

“Hayi? Lee Hayi?” Hayi terdiam sebentar sebelum akhirnya sadar dan menjawab pertanyaan dari tentara itu.

“Ya Kim Hanbin!” Sapa Hayi pada tentara itu dengan nyaring. Bisa terlihat ia tak mampu menyembunyikan rasa senangnya karena bisa bertemu dengan teman karibnya setelah sekian lama tidak betemu.

“Benar kau Hayi?! Pantas saja aku merasa tak asing dengan teriakan mu!” Balas Hanbin sambil terkekeh. Tentu Hanbin juga senang bertemu dengan Hayi.

“Astaga… Bagaimana bisa aku tak mengenalimu! Sepertinya aku sudah lupa dengan suaramu Kim Hanbin. Hehehe..” Ucap Hayi sambil mencubit kedua belah pipi Hanbin, layaknya yang sering ia lakukan waktu kecil setiap kali ia melihat Hanbin.

Hanbin perlahan merasa kesakitan karena cubitan Hayi sudah mulai melampaui batas. Ia jauhkan kedua tangan Hayi lalu mengacak rambut panjang Hayi dengan pelan.

“Aish kau ini.” Hanbin berhenti sebentar lalu melanjutkan, “ Hayi, kau bertambah cantik sekarang.”

Hayi tak mampu menyembunyikan pipi nya yang merona. Mungkin pipinya terlihat seperti tomat segar sekarang. Entah kenapa ia merasa sangat senang dengan pujian yang dilontarkan Hanbin.

“Astaga, itukah hal yang pertama kali kau sadari dariku setelah 5 tahun tak bertemu?”

“5 tahun. Cepat sekali waktu berlalu.” Ucap Hanbin pelan.

“Bagimu sepertinya iya, tapi bagiku tidak. Kau tak tahu bagaimana susahnya aku harus mencari teman baru disekolah karena kau tak lagi ada disisiku. Aku menangis berhari-hari karena kepergianmu tahu.” Jawab Hayi panjang lebar.

Hanbin hanya terdiam saat mendengar jawaban Hayi.

”Maaf. Karena aku tak bisa menemui mu selama ini.” Hanbin merasa bersalah atas apa yang ia lakukan selama ini. Meninggalkan Hayi sendirian dan membiarkan ia menjalani kehidupan tanpanya.

“Ya Kim Hanbin, aku sekarang tak seperti dulu lagi. Aku sudah bisa berteman kok. Jadi kau tak usah khawatir.” Jawaban Hayi membuat Hanbin merasa sedikit tenang.

Cukup lama mereka berbincang saat itu. Dari kejauhan, teriakan dari teman-teman Hanbin sukses memotong pembicaraan mereka. Dengan berat hati Hanbin pamit pada Hayi karena ia harus kembali bertugas.

“Hayi..” Panggil Hanbin pelan.

”Eung?”

“Aku bertugas patrol disini mulai minggu lalu. Jadi kita bisa bertemu lagi minggu depan.” Ucap Hanbin pada Hayi.

“Benarkah?” Hayi terkejut sebentar karena Hanbin mengatakan hal tadi dengan sangat tiba-tiba.

“Iya. Sampai ketemu minggu depan, Hayi” Balas Hanbin dengan mantap.

“Oh. Ooh iya baiklah.” Jawab Hayi dengan terbata-bata karena gugup.

“Jangan lupa!” Hanbin berteriak pada Hayi untuk terakhir kalinya sebelum ia berbalik kembali menuju gerombolan teman-temannya.

“Tentu! Hati-hati Hanbin!” Balas Hayi berteriak. Dikejauhan Hanbin mengacungkan jempolnya, tanda bahwa ia mengerti.

Hayi menunggu hingga gerombolan tentara itu berbelok diujung jalan. Dijalan pulang, masih terngiang ucapan Hanbin dikepalanya. Tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Ada yang tak beres dengan pikirannya dan Hayi tahu akan hal itu.

Ia berasumsi bahwa mungkin ini semua terjadi karena rasa kangen nya pada Hanbin sudah dapat disembuhkan karena telah bertemu dengannya. Namun saat mengingat pujian dari Hanbin tadi ia langsung refleks dan tersenyum.

Hari itu diakhiri dengan Hayi tersenyum lebar didalam tidurnya.

***

Minggu ke-3 November 1949

Sebaris tumpukan kotak makan dengan lapisan kain terbungkus dengan rapi diatas meja makan rumah keluarga Lee.

Nyonya Lee heran dengan kelakuan putrinya hari ini. Hayi terlihat menata rambutnya dengan hati-hati. Tak hanya itu, ia bahkan memakai pita diujung kepangan rambutnya. Ibunya bingung karena Hayi tak biasa memakai pita dirambutnya, hanya pada acara tertentu saja ia memakainya.

“Hayi-ah, mau kemana kau berpakaian rapi seperti itu. Dan bento ini juga mau kau apakan?” Tanya ibu Hayi pada anak semata wayangnya itu.

“Ah.. bento itu. Aku mau mengantarkannya pada temanku, Eomma.” Jawab Hayi sambil sibuk merapikan kembali pita yang ada dirambutnya.

“Temanmu?” Tanya ibunya agak heran.

“Eum. Pada Hanbin.” Jawab Hayi pendek.

“Hanbin? Maksudmu Kim Hanbin? Bukankah ia ditugaskan di Daegu?”

“Tidak Eomma. Ia ditugaskan disini. Baru minggu lalu aku bertemu dengannya.”

Ibu Hayi terkejut sebentar. Karena yang beliau tahu, sebelumnya Hanbin berada di Daegu bulan lalu. Ibunya Hanbin sendiri yang bercerita pada beliau tak lama yang lalu.

“Benarkah? Kalau begitu sampaikan salam Eomma padanya.” Lanjut ibu Hayi.

“Baik, Eomma.” Jawab Hayi sambil mengeratkan kembali tali sepatunya.

“Oh, bilang juga pada Hanbin kalau dia ada waktu, makan malam lah disini. Eomma akan membuatkan Samgyetang kesukaannya.” Sambung nyonya Lee lagi.

Arraseo, Eomma. Aku pergi dulu.” Hayi bergegas pergi.

Ibunya yang melihat semua ini hanya bisa tersenyum karena melihat tingkah laku putrinya yang sangat senang akan keberadaan teman lamanya.

Kaki Hayi kini menuju tempat Hanbin sering berpatroli. Hayi berlari menuju toko roti diujung jalan, berharap ia akan menemukan Hanbin disana karena disanalah tempat ia bertemu dengan Hanbin tempo hari. Namun tak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan Hanbin ataupun teman-temannya disana.

Hayi kebingungan. Namun ia tetap mencari Hanbin kesegala tempat yang bisa terpikirkan dikepalanya. Bodohnya Hayi yang tak sempat bertanya pada Hanbin minggu lalu akan dimana tempat mereka ingin bertemu kembali. Jika saja ia bertanya saat itu, mungkin ia sudah menikmati sebagian isi bento ini dengan Hanbin disampingnya.

Langkah Hayi semakin lama semakin lamban. Namun dikejauhan ia dapat melihat beberapa tentara memasuki halaman Sekolah Dasar yang terletak dilingkungan rumahnya. Tanpa ragu dan seakan energinya terisi penuh kembali, Hayi berlari kearah itu. Dan benar saja, disitulah para tentara yang sedang kena tugas patroli beristirahat.

Mata Hayi tak berhenti mengamati sekitarnya. Tujuannya hanya satu, yaitu mencari sosok Kim Hanbin. Tetapi rasanya sangat sulit untuknya menemukan satu orang diantara puluhan tentara ini karena mereka berpakaian sama. Hayi merasa ingin menangis dibuatnya, ia putus asa mencari Hanbin.

Disaat ia ingin berbalik arah bermaksud untuk pulang kembali kerumahnya, tiba-tiba pelukan hangat dari seseorang dibelakangnya sukses membuat ia tersentak.

“Hey mau kemana kau Lee Hayi.”

“Yak! Kenapa kau diam saja?”

“Hayi. Lee Hayi!”

Hanbin tidak mendapat jawaban barang sedikitpun dari perempuan yang tengah ia peluk itu.

“Kau jahat.” Ujar Hayi tiba-tiba. “Huh? Apa maksudmu?”

“Kenapa kau tidak memberi tahu padaku bahwa kau berada disini?! Aku telah mencarimu kemana-kemana. Jika saja kau memberi tahuku dimana kau berada, mungkin kita sudah melahap habis isi bento ini.” Hayi menjawab pertanyaan dari Hanbin panjang lebar.

“Bento?” Tanya Hanbin. “Aku membuatnya untukmu.” Hayi menyodorkan bento bertumpuk yang dilapisi dengan kain diluarnya. Hanbin dapat dengan jelas melihat bahwa pelupuk mata Hayi tengah berkaca-kaca, ingin menangis. “Ya Lee Hayi jangan menangis kataku.”

“Bagaimana aku tidak menangis. Isi bento ini sudah dingin.”

“Memang kenapa kalau sudah dingin?”

“ Nanti rasanya tidak enak lagi dan kau tidak akan mau untuk memakannya…”

“Bodoh. Yang benar saja. Aku akan memakannya.”

“Benarkah?”

“Ayo makanlah bersamaku.” “Aku yakin kau sangat kelaparan karena telah berlari kesana kemari untuk mencariku”

Rupanya kalimat terakhir dari Hanbin tadi dapat membuat Hayi percaya dengan ucapannya. Akhirnya mereka berdua duduk disebuah tenda tempat tentara beristirahat berada. Banyak mata tentara yang menatap mereka berdua. Sebagian memandang mengejek, sebagian lagi memandang iri. Namun mereka tak peduli. Karena Hanbin dan Hayi kini sudah terlarut kedalam dunia mereka sendiri. Layaknya apa yang mereka lakukan saat kecil dulu.

***

Januari 1981

Aigoo Hanbin-gun. Ayo duduk disini ayo cepatlah.” Ibu Hayi mempersilahkan tamunya untuk duduk.Hanbin tak berhenti untuk membungkuk hormat dan tersenyum sambil menerima tawaran dari kedua orang tua Hayi.

Saat ini ia tengah berkunjung kerumah Hayi dan alasannya yaitu untuk memenuhi janjinya tempo hari. Ayah Hayi sangat senang bisa berjumpa lagi dengan Hanbin. Beliau sudah mengganggap Hanbin layaknya anak sendiri karenanya.

“Kukira kau tidak akan selamat dipertempuran itu, nak.” “Bagaimana? Ada cerita menarik?”

Hanbin tersenyum lebar kearah tuan Lee. Setelahnya ia bercerita panjang lebar mengenai pengalaman pertamanya hidup di militer, barak, hingga senjata yang sering ia gunakan disaat latihan. Dari A sampai Z runtun ia ceritakan. Sesekali tawa renyah keluar dari keduanya. Tuan Lee menggangguk sebagai respon disetiap kisah Hanbin.

Benar saja, nyonya Lee ternyata membuat Samgyetang khusus menyambut Hanbin. Tak perlu waktu lama, acara makan malam itu berakhir.

Eomoni, Abeoji, aku izin untuk membawa Hayi jalan-jalan sebentar. Apakah boleh?” Tanya Hanbin sopan, seusai makan malam berakhir.

Tuan dan Nyonya Lee berhadap-hadapan. Membuat Hanbin merasa tidak enak karena menanyakan hal tersebut. Hayi? Pipinya kini bersemu merah, sangat merah.

Tetapi jawaban orangtua Hayi mengejutkan Hanbin “Tentu saja! Ingat, keratkan jaket kalian. Diluar akan dingin sekali.” Ucap nyonya Lee sambil tersenyum lebar kearah dua remaja itu.

***

Hayi dan Hanbin tengah berjalan berdampingan. Suhu udara sekarang minus empat, dan rencana Hanbin untuk berjalan-jalan dimalam hari sangatlah tidak pantas. Hayi menggigil.

“Hanbin-ah…”

“Eum?”

“Aku kedinginan…” Hanbin tercekat, lalu dengan cepat melepas jaketnya sendiri untuk dipasangkan ketubuh Hayi.

“Sekarang bagaimana?” Hayi membalas dengan senyum. Hanbin dapat memastikan bahwa Hayi merasa lebih baik, dilihat dari wajahnya tak sepucat sebelumnya.

“Hanbin-ah…”

“Apa lagi?”

“Kau mau naik rumah pohon lagi?”

Hanbin terdiam sesaat, bingung. “Rumah itu masih ada? Benarkah?”

“Benar. Sudah kuperbaiki. Ada lampu dan penghangat disana. Bagaimana?”

“Baiklah. Ayo!”

Hayi menuntun langkah keduanya menuju halaman belakang rumahnya. Pohon besar itu masih kokoh berdiri layaknya di tahun-tahun sebelum kepergian Hanbin ke militer. Hanbin menganga. Rumah pohon tempatnya dulu bermain bersama Hayi setelah pulang sekolah, kini menjadi lebih bagus dan lebih besar dari apa yang diingatnya dulu.

Hayi sudah memanjat tangga menuju kerumah pohon tersebut. Dalam waktu singkat, ia sudah sampai diatas. Tangannya melambai-lambai kearah Hanbin, isyarat agar Hanbin juga naik bersamanya. Dengan senang hati Hanbin menyusul Hayi.

“Bagaimana? Bagus bukan?”

“Wow kau mau sombong sekarang? Hahahaha.”

“Kalau iya kenapa?”

“Aku tak percaya kau yang memperbaiki semuanya.”

“Ada sedikit bantuan dari ayah. Sisanya ya aku sendiri.”

Hanbin diam mendengarkan penjelasan panjang dari Hayi setelahnya mengenai rumah pohon dan hal lainnya.

 

Hanbin POV

“Dan bagian atapnya sudah ditambal Hanbin-ah. Kau ingat kan kita pernah basah kuyup karena atap rumah ini bocor? Hahaha bodoh sekali kita dulu ya…”

“Hanbin-ah…”

“Kim Hanbin!”

Teriakan itu menyadarkan ku dari lamunan. Hayi mengomel gara-gara aku tak mendengar barang sepatah kata pun dari omongannya sepersekian menit yang lalu. Aku hanya bisa meminta maaf sambil menggaruk tengkukku yang sama sekali tak gatal.

Wajahnya masih kesal. Ya, aku bisa menebaknya. Karena itu tertampang dengan jelas.

Lekukan wajahnya, setiap sudut dan garis. Bulu mata nya yang lentik. Bola mata yang besar, hidungnya yang tidak terlalu mancung, bahkan bibirnya. Bibir tipis itu.

Hayi kembali melanjutkan omongannya yang terpotong. Aku kembali mengamati figurnya.

Cara matanya menatap. Betapa cepat bibirnya bergerak mengucap kata demi kata. Dari hal-hal kecil tersebut aku sadar. Aku jatuh cinta padanya.

Temanku dibarak pernah berkata bahwa ‘Tanda kau jatuh cinta pada seseorang yaitu saat hal-hal kecil yang ia lakukan, akan selalu terlihat menarik dimatamu.’ Dan kali ini aku percaya akan kata-kata itu.

Seolah tak bisa dibendung, rasa itu kini datang. Dan rasanya sangat aneh. Kami hanya teman masa kecil, namun rasa itu tak terelakkan.

“Hayi…”

“Eum?”

Kubalikkan badannya agar menatap sempurna kearahku. kusandarkan dahiku tepat di miliknya. Hidung kami bersentuhan. Hayi terdiam. Tak ada yang berbicara diantara kami. Biarlah diam yang menjawab semuanya. Kutempelkan bibirku dipermukaan bibir tipisnya. Ini mengejutkan! Aku tak pernah menginginkan semua ini. Entah darimana keberanian ini semua terkumpul.

Awalnya Hayi menerima semua perlakuan ini. Beberapa detik kemudian ia melepas ikatan ini. Lalu mendorong badanku menjauh darinya. Apakah ada yang salah?

“Han… Hanbin…”

Aku menatapnya lekat dikedua retina miliknya. Tidak mengucap apapun.

“Ini salah Hanbin. Aku sudah bertunangan.”

Bibirku kelu, otakku menginginkan kalimat terucap tetapi tidak ada yang dapat keluar. Hayi berdiri terburu-buru, berjalan menuju tangga bermaksud untuk turun dari tempat ini secepatnya.

“Hanbin sebaiknya kau pulang. Besok hari jumat dan kau harus patroli bukan?” “Aku duluan Hanbin-ah.”

Tanpa menunggu jawaban dariku, Hayi telah menuruni tangga bergegas menuju bangunan rumahnya.

Benar kata Hayi, ini salah.

Tak seharusnya aku jatuh cinta dengannya, tanpa sedikit pun memikirkan tentang perasaannya. Aku terlalu bodoh untuk menyadari semua itu. Aku telalu egois menyatakan ini semua. Lima tahun tak berjumpa dengannya membuat semua rasa itu meluap dalam sekejap.

Hari semakin dingin. Dan hatiku pun juga ikut merasakan dinginnya suhu udara saat ini. Maafkan aku Lee Hayi.

***

Author POV

September 1981

“Hanbin, ada surat!”

Hanbin beranjak dari tempat ia meletakkan pantatnya beberapa waktu yang lalu “Dari ibuku?”

“Bukan. Pengirimnya kalau tidak salah bernama Lee Hayi.”

“Lee Hayi?” Hanbin mengulang nama terakhir yang ia dengar.

“Coba kau cek sendiri.”

Teman Hanbin yang bertugas membagi surat datang itu kemudian berlalu. Meninggalkan Hanbin yang terlanjur penasaran dengan surat yang kali ini ia terima. Ini kali pertama ia menerima surat dengan pengirim selain dari ibu maupun keluarganya.

Surat itu tipis dan ringan, Hanbin berasumsi bahwa isinya hanya mungkin beberapa lembar kertas saja. Dirobeknya perekat amplop. Terlihat kertas khusus berhias didalamnya.

Hanbin terduduk.

Kertas itu adalah undangan pernikahan Hayi beserta secarik kertas dengan tulisan tangan yang Hanbin kenal betul yang dikirim bersamaan.

Kim Hanbin.

Datanglah kepesta pernikahanku. Mungkin undangan ini akan sampai seminggu setelah kukirim. Pakai tuksedo terbaikmu, aku tak ingin melihat sahabatku datang keacara special ini dengan penampilan yang tidak pantas. Hahaha. Akan kupukul kepalamu jika berani tak datang ke acara pernikahanku ini.

Terakhir, maafkan aku. Tak membalas hatimu.

Kita mungkin ditakdirkan untuk menjadi sahabat yang bodoh Hanbin-ah… tolong mengerti keadaanku.

Kuharap akan mendengar balasan yang menyenangkan dari surat ini.

Salam

Lee Hayi

Mata Hanbin sendu. Antara senang dan sedih setelah membaca surat tersebut. Ia sendiri bingung. Secepat itukah acara tersebut dilaksanakan. Nampaknya hati Hayi untuknya hanyalah sebatas teman semasa kecil.

Diambilnya kertas beserta pena dari nakas disamping tempat tidurnya. Perlahan ia torehkan kata demi kata. Balasan dari surat Hayi tersebut.

Don’t say you’re sorry.

Your one word tears me apart. I’ll be right there when time passes.

Until the moment I die, I want to make you smile.

Your lips, yhe nose that has your breath, your teary eyes.

Our love, it was beautiful. Our last dream.

I’m sorry.

My selfishness that can’t let you go. It became an obsession and trapped you.

Were you hurt beside me? You sit silently.

Like a fool, I can’t erase you.

Your eyes, nose, lips. Your touch that used to touch me, to the ends of your fingertips. I can still feel you.

But like a burnt out flame, burnt and destroyed.

All of our love.

It hurts so much, but now, I’ll call you a memory.

Truly yours

Kim Hanbin

 

Selesai dengan suratnya, kertas itu lalu dimasukkan Hanbin kedalam amplop. Lalu dimasukkannya kedalam kotak pos yang berada tepat didepan baraknya.

Kini ia hanya bisa menunggu waktu, kapan surat itu sampai dan balasan apa yang akan mengiringinya nanti.

End

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s