Flawless Law

Flawless Law

Author Noranitas Cast SVT’s Joshua OC’s Law Genre Angst AU Slice of Life Length Ficlet Rating PG-15

‘Imagine a beautiful dream you had once.’

Begitu tinggi Joshua menggantungkan mimpi.

Jika bisa diukur, mungkin mimpi Joshua tak kalah berbanding dengan tinggi bangunan di tiap ruas ibukota. Tetapi, pria tersebut mencomot contoh yang lebih simpel untuk bahasan ini.

Mimpinya setinggi gedung tempat Law bekerja.

Dari tempatnya berada sekarang, gedung tersebut menjulang gagah diapit sebuah bakery lantai tiga dan juga sebuah firma kecil di sisi yang lain. Bangunan bernuansa putih dengan arsitektur modern melambangkan begitu tinggi kasta mereka yang mampu melewati pintu masuk yang terbuka secara otomatis itu. Bahkan, Joshua yang setiap saat berdiam di seberang jalan –mengamati jalannya toko tersebut- tak pernah bisa membayangkan jika kakinya dapat melangkahi sang pintu masuk.

Sambil memetik sinar gitar kesayangannya, untaian nada kerap mengiringi langkah Law menuju tempatnya bekerja. Sesekali gadis itu sudi untuk menoleh sebentar ke arah seberang jalan dan melontarkan sebuah senyuman manis. Kali lainnya Law hanya melengos pergi, bergegas menuju toko gaun pengantin tersebut.

Walaupun begitu. Joshua tidak putus asa. Menghibur gadis pencuri hatinya adalah prioritas nomer satu dalam kamus hidupnya. Masalah umpan balik yang ia terima nantinya ibaratkan bonus. Jika di beri senyum maka ia beruntung dan jika tidak mungkin lain kali.

***
Begitu sederhana mimpi seorang Joshua.

Sesederhana tampilan luar gedung yang melekat di penglihatannya sekarang. Toko milik seorang perancang busana tingkat dunia tersebut hanya dihiasi oleh jendela kaca yang tersusun rapi. Memperlihatkan langsung bagaimana keadaan operasional yang terjadi di dalam toko, pada khalayak banyak.

Dan mimpi Joshua memang benar sesederhana deretan jendela tersebut.

Hanya satu perasaan yang ia miliki terhadap Law; cinta.

Tidak lebih dan tidak kurang.

Perasaan suka yang muncul di awal musim semi. Ketika Joshua memetik gitarnya merdu. Melantunkan sebuah lagu dengan bahasa negeri ibunya. Di menit berikutnya justru menarik banyak perhatian pengguna jalan untuk berhenti sebentar demi menikmati suara bening milik pemuda Korea tersebut masuk ke dalam koklea.

Dan dari begitu banyak yang mengelilingi pertunjukannya, justru di gadis berambut pixie itulah kedua iris Joshua mendarat. Gadis tersebut turut menggumamkan lirik lagu yang tengah Joshua bawakan. Terbawa suasana hingga kedua kelopak cantik miliknya menutup dengan natural. Mengapresiasi nyanyian Joshua yang sudah membuat paginya berwarna.

Dan itulah pertemuan pertama Joshua dan Law.

Sesederhana kelopak mata indah Law yang mengatup, sesederhana itu pula Joshua menaruh hati pada sang gadis.

***

Begitu indah mimpi yang tengah Joshua jalani.

Baginya, hidup berdampingan di masyarakat dengan kehadiran Law di dalamnya bak mimpi yang terwujud secara perlahan di dunia nyata.

Manis pahit masam asin yang terjadi di hidupnya nyatanya lekas terobati bahkan hanya dengan eksistensi sang gadis itu sendiri. Melihatnya pergi bekerja di pagi hari.

Mengamatinya dari balik jendela toko yang tembus pandang; berinteraksi dengan sejumlah client, berkutat dengan desain baru, menginput data penjualan hingga menikmati makan siang sepotong sandwich. Mengiringi langkahnya di senja hari, pulang menuju kediamannya yang berada di salah satu flat beberapa blok dari tempatnya bekerja.

Karena hanya dengan menatap ciptaan Tuhan bernama Law, mampu membuat Joshua lupa akan perihnya luka kehidupan yang ia sendiri tengah alami.

Seringkali Joshua harus rela menenggelamkan diri dibalik puluhan kertas koran lusuh demi secuil kehangatan sebagai perisai dari dinginnya angin malam musim gugur jika Law terpaksa lembur di tempat kerja.

Ingin sekali Joshua berlari menuju satu-satunya cahaya yang menyala di gedung tersebut.

Meminjamkan kedua tangannya agar Law bisa pulang lebih awal dan segera bergumul dengan selimut hangat.

Mimpi indah Joshua terganggu jika ia melihat Law dalam keadaan yang buruk.
Dan pria tersebut benci akan hal itu.

***

Begitu fana mimpi yang Joshua miliki.

Tidak nyata.

Dusta.

Bohong.

Boleh jadi ia membela diri dengan alasan atas nama cinta. Tetapi perlahan-lahan, lambat laun, fantasi akan Law dan segala yang ada pada diri gadis itu merangsak masuk ke jiwa si pemuda. Membuat Joshua kehilangan fokus. Sulit membedakan apakah ia sedang tertidur atau terbangun dari mimpi.

Mimpi-mimpi yang dulunya kecil kini hidup berkoloni.

Joshua semakin frontal. Sebisa apapun ia lakukan demi mendapat perhatian dari Law.
Gadis itu perlahan takut.

Tak ada lagi nyanyian indah disertai guratan nada merdu dari gitar yang dipetik. Sang musisi kini beralih mengikuti tiap langkahnya. Kemanapun dan kapan saja!

Hari-hari Law kini dipenuhi dengan mimpi buruk yang terus berputar di kehidupannya. Pulang pergi bekerja dengan iringan langkah kaki pria itu di belakangnya. Siang hari ditemani tatapan tajam milik pria tersebut dari seberang jalan. Hingga malamnya pun bak tidak bisa lepas dari kendali Joshua.

Ya.

Law kenal dengan pria itu. Namanya Joshua, sang pengamen tunawisma yang seringkali mengirim senyum padanya.

Sudah tiga hari Law absen dari pekerjaannya. Ia tak bisa melangkah lebih jauh dari kamarnya. Karena di bawah sana, Joshua menunggu kehadirannya.

Ini mengerikan.

Dan Law sudah berada di ambang batas.

***

Begitu ironis mimpi beserta hidup seorang Joshua.

Gedung bernuansa putih dengan jejeran jendela tembus pandang tersebut begitu hampa seiring hari berganti. Walaupun rutinitas yang ada di dalamnya tetap berjalan seperti sedia kala, Joshua kehilangan mentarinya. Mentarinya yangmana salah seorang pegawai di toko tersebut.

Law.

Sudah terlambat untuknya menyesali perbuatan yang lalu.

Semua sudah berakhir.

Mimpi indahnya sudah musnah ditelan kegelapan.

Tepat di sebuah kamis malam. Dimana Joshua berdiri kokoh di depan flat kediaman Law.

Malam itu cerah tidak berawan. Menyimpulkan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi Joshua untuk memandang Law malam ini. Yang ironisnya hanya bisa memandangi dari tepi jalan.

Tiga hari tanpa Law membuat Joshua gila.

Kehadiran gadis tersebut laksana obat-obatan candu. Jika terlewat barang sehari saja tanpa mengonsumsinya akan berdampak buruk bagi tubuh. Dan hal itu pun yang terjadi pada Joshua. Joshua dibutakan oleh hasrat.

Tanpa tahu menahu bahwa absennya Law adalah akibat dari ulahnya sendiri.
Joshua masih setia menunggu Law keluar dari kediamannya hingga di kejauhan terdengar sirine milik mobil polisi. Semakin mendekat.

Dan detik itu pula Joshua sadar. Ada yang salah dengan ini semua.

Diliriknya kembali jendela kamar milik Law. Betapa terkejutnya sosok Law tengah menatapnya dari balik jendela. Mengisyaratkan bahwa ia lelah dengan semua ini.
Dengan Joshua pun dengan mimpi ‘indah’ milik pria tersebut.

***
Begitu miris akhir dari mimpi indah kepunyaan Joshua.

Setelah tiga hari menjadi buronan polisi, akhirnya Joshua beserta gitarnya kembali ke ibukota.

Hanya satu destinasinya; tempat Law bekerja.

Dari celah sempit di antara dua bangunan, berdirilah Joshua. Menatap perih Law yang sedang membalas pelukan dari setiap rekan kerjanya. Sedikit dialog di antara Law dengan sang kepala toko kemudian gadis itu membungkuk hormat terhadap wanita paruh baya tersebut.

Kepergian Law diiringi tangis sendu dari koleganya. Law dan seorang pria tua –Sedikit dialog di antara Law dengan sang kepala toko kemudian gadis itu membungkuk hormat terhadap wanita paruh baya tersebut.

Kepergian Law diiringi tangis sendu dari koleganya. Law dan seorang pria tua –yang Joshua asumsikan adalah ayah Law- memberi salam hormat untuk terakhir kalinya. Menit berikutnya, mobil yang mereka tumpangi hilang dari jarak pandang ketika berbelok di ujung jalan.

Joshua berlari menuju flat milik Law. Dari jendela yang terbuka, dapat dilihat jelas bahwa ruangan tersebut kosong. Tidak ada lagi furniture. Tidak ada lagi tanda kehidupan.

Parahnya lagi, tidak ada Law disana.

***
Joshua terlalu imaginer.

Mengapa dirinya tidak bisa mengendalikan hasratnya sendiri. Jika rasa memiliki itu tak pernah Joshua rawat, tak mungkin ceritanya dengan Law harus berakhir sampai disini.

Paling tidak, ia masih bisa menatap puas gadis itu dari gedung tempatnnya bekerja.

Joshua terlalu berharap.

Hanya karena effort nya dibalas dengan seutas senyum, lantas setiap syaraf otak Joshua mencernanya sebagai suatu pertanda. Joshua sungguh keterlaluan.

Lagi, Joshua terlalu lancang.

Tanpa melihat status sosial diantara dirinya dan Law, Joshua lancing menaruh hati. Tidak ada Romeo dan Juliet di abad 21. Bahkan untuk jatuh cinta di abad ini diperlukan ribuan pemikiran matang. Jatuh cinta tak lagi masalah tulus atau tidak; sayang atau tidak; lebih tepatnya keselarasan.

Law yang terlahir dari keluarga baik-baik dan menimba ilmu hingga jenjang yang mengantarkannya mendapat posisi tetap di sebuah perusahaan berbanding terbalik dengan Joshua yang kecil hingga besar hanya memetik gitarlah pengetahuan yang ia miliki.

Tidak realis.

Dan angin sore berhembus kencang menampar wajah Joshua. Usaha menyadarkan sang pemuda, bahwa ia bukan hidup dalam mimpi indahnya.

Dan memanng tidak pernah hidup dalam mimpi indahnya.

***

END

a/n ff ini kubikin waktu ikutan eventnya ka nesjo hihi.

Yoohoo lawxjosh nih ka wkwkkw but disini aku pake Law versi Asia/?. Padahal penggambaran Law nya kk sama yg di otak ku hampir mirip loh ka! Seriyus kwkwkwkwk nasib kena pelet diamond life kali nih ya /plak. Hope you like it yhaaa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s