Sepuluh Jari

Sepuluh Jari

Author Noranitas Cast Up10tion’s Jinhoo Wooshin Genre Dystopia Friendship AU Length Oneshot (1971 word) Rating PG-15

“Jinhoo yang memiliki sepuluh jari, begitu pun dengan Wooshin.”

KESEMPATAN

Bayangkan jika kalian hanya memiliki sepuluh buah kesempatan seumur hidup, apa yang akan kalian lakukan dengan kesempatan-kesempatan tersebut?

Menggunakannya secara perlahan-lahan satu demi satu? Atau menghabiskannya dalan satu kali kesempatan? Membuat perhitungan matang-matang sebelum menggunakannya?

Atau bahkan membuang-buang kesempatan tersebut tanpa perlu pikir panjang?

Setiap makhluk hidup memiliki cara tersendiri dalam memanfaatkan segala kesempatan yang mereka miliki.

Tidak hanya manusia.

Hewan, tumbuhan pun robotik ciptaan baru berusaha menggunakan nalar mereka dalam mengolah suatu kesempatan hingga menjadi sesuatu yang dapat menguntungkan dirinya juga pihak tertentu.

Sama seperti pemuda bernama Jinhoo.

Ia terpaksa bermigrasi menuju Seoul Metropolis dan meninggalkan daerah selatan dengan laut biru dengan ribuan anjing laut yang berjejer di tepian laut cina selatan.

Jangan heran. Ini adalah abad ke 23. Dimana erupsi gunung api aktif menyembur setiap sepuluh tahun sekali. Dan rakyat biasa seperti Jinhoo harus rela menjadi kelinci percobaan dari para penemu di kota Metropolis.

Tujuan mereka simpel.

Apakah manusia bisa hidup dengan baik dan tumbuh berkembang di pulauan hasil gunung meletus. Jika iya, maka kabar baik. Sudah hampir satu per tiga pulau utama Korea terendam oleh lelehan salju dari kutub utara. Rakyat Korea memerlukan tempat tinggal baru yang layak. Jika percobaan mereka berujung dengan hasil sebaliknya, berarti seluruh rakyat Korea tinggal menghitung mundur hari dimana kematian akan menjemput mereka.
Jinhoo. Di kali ketiga nama dan keluarganya di panggil sebagai utusan untuk hidup di pulau endapan baru di timur laut Guam, memutar otaknya secara efisien. Hidup dua kali di daerah percobaan yang mustahil di huni karena panasnya yang luar biasa menjadikan kepala cerdik Jinhoo mampu membuat rencana baru jika di masa depan ia dan keluarganya di utus kembali ke dalam misi tidak masuk akal tersebut.

Jinhoo mungkin tidak sepintar laki-laki seumurannya –yang seharusnya tengah menimba ilmu di perguruan tinggi- tetapi ia tahu, kapan dan bagaimana menggunakan kesempatan yang ia miliki untuk keberlangsungan hidupnya kelak.

Akal Jinhoo bermain.

Ia punya sepuluh jari.

Dan artinya Jinhoo memiliki sepuluh kesempatan.

***
PELARIAN DARI GUAM

Di kesempatan pertama Jinhoo memakai empat kesempatan sekaligus. Satu kesempatan seharga tebusan satu nyawa manusia.

Jinhoo, ayah, ibu dan juga adik perempuannya. Semua ada empat orang.

Beruntung Jinhoo mampu mengakrabkan diri dengan sang pilot pengantar utusan ke daerah percobaan. Dengan sedikit negoisasi, Jinhoo berhasil menyelamatkan dirinya dan juga keluarganya dari panasnya kehidupan percobaan di daerah terpencil tersebut. Dengan syarat, Jinhoo dan keluarga tetap ikut menuju Guam. Melalui proses verifikasi identitas dan di akhir, akan ikut pulang bersama awak pesawat menuju ibukota.

Ya. Dengan kata lain ke empatnya diselundupkan.

Sebelum pesawat lepas landas. Di kabin depan alat transportasi gigantik tersebut dilaksanakan proses pembayaran.

Dengan disaksikan oleh kedua orangtua dan juga adik tersayang yang tak mampu menahan tangisan tidak tega. Di hadapan sepuluh pasang mata. Jinhoo memotong empat jari tangannya. Masing-masing kelingking dan jari manis dari setiap tangan.

Tujuan hidup Jinhoo yang tersisa satu-satunya kini hanyalah kota tersebut,
Seoul Metropolis.

***
METROPOLIS DAN MATA UANG

Sudah sebulan lebih Jinhoo hidup di Metropolis.

Berita tentang kematian para utusan di Guam menyebar luas hingga ke seluruh negeri. Jinhoo dan keluarga dinyatakan hilang di lautan. Badan mereka tidak ditemukan oleh badan penyelamat hingga hari ke delapan pencarian intensif. Padahal yang di cari-cari sedang hidup bergantung dengan setitik harapan di kota besar.

Jinhoo dan keluarganya hidup dalam terror yang kian hari semakin menghantui. Ketakutan akan terungkapnya identitas kerap terbesit di kepala Jinhoo. Jika masyarakat sini mengenali wajahnya, habislah akhir dari hidup rentan mereka.

Jangan bayangkan jika hidup Jinhoo akan membaik setelah pindah ke kota besar. Sebaliknya, hidup ke empatnya semakin memburuk.

Adik Jinhoo terserang flu dan batuk berdahak yang tak kunjung sembuh. Jari gadis kecil tersebut kini hanya tersisa dua, delapan lainnya sudah digunakan untuk berobat ke bidak kesehatan –istilah lain dari rumah sakit.

Metropolis menyediakan dua sisi kota yang sungguh berbanding terbalik antara satu sama lain. Sisi terang dan sisi gelap. Keduanya di pisahkan oleh sejalur aliran deras sungai yang menjorok hingga kedalaman entah-berapa-puluh meter. Dinamai sungai kematian.

Bagi masyarakat sisi terang, hidup adalah karunia dari sang pencipta di tiap detik yang berputar. Tetapi bagi rakyat sisi gelap, tiap detik adalah ancaman. Mereka tidak bisa tidur dengan tenang di malam hari. Lagi, di siang hari roda kehidupan begitu mencekam. Kehidupan yang terlalu kotor. Masing-masing sibuk menyelamatkan harga paling berharga –barang satu jari sekalipun.

Mata uang di kehidupan ini memang terlampau berbeda dengan yang beredar di masa lalu.

Pepohonan tak lagi cukup untuk memasok material mentah pembuatan kertas. Bagaikan roda yang berputar, masyarakat jaman ini kembali menggunakan emas dan perak sebagai mata uang. Dibuat dalam bentuk kepingan bulat kecil layaknnya yang ataupun berbentuk geobukseon –turtle ship- sekalipun.

Lalu bagaimana rakyat sisi gelap atau imigran illegal macam Jinhoo bisa bertahan hidup?

Walaupun tanpa sepeser perak bahkan emas sedikit pun?

Mereka mempunyai dua belah tangan. Masing-masing terdapat lima buah jari yang berarti ada sepuluh jari jika di totalkan.

Dan mereka terpaksa memotong jari sebagai alat pembayaran yang sah.

***
HARGA LAIN

Keadaan fisik adiknya yang makin hari memburuk, menambah panjang daftar hal yang Jinhoo khawatirkan di setiap detiknya.

Baru saja kemarin ia bertemu seorang awak kabin pesawat –yang membantu menyelusupkan Jinhoo dan keluarga- yang membawa berita tidak mengenakkan. Ada yang curiga dengan hilangnya ke empat utusan menuju Guam. Pihak pusat berasumsi ke empatnya memang tidak pernah menaiki pesawat dan teori yang lain. Tentu ini membuat Jinhoo panik luar biasa.

Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

Jinhoo bersikeras memohon ampun. Ia berlutut di hadapan sang awak kabin dengan ribuan asa di kepala. Berharap pria bertubuh tinggi kekar tersebut mampu melihat binar keputus asaan di kedua irisnya.

Sang awak kabin akhirnya luluh. Kepalanya mengangguk lemah. Kemudian mengisyaratkan agar Jinhoo berdiri kembali di atas kedua telapak kakinya. Jinhoo mengangguk.

Demi keluarganya, Jinhoo rela berkorban. Entah berapa pun harganya. Demi secuil kebahagiaan ia tulus. Bisa melihat senyuman hangat di dalam keluarga telah lama Jinhoo idam-idamkan. Demi hal sesederhana itu.

Jinhoo rela.

Walaupun semuanya di bayar dengan satu jari tangannya sebagai suap atas keberadaannya sekarang yang tengah berada dalam status buronan.

***
SUNGAI KEMATIAN

Kedua kaki Jinhoo melangkah lesu tanpa arah.

Setelah transaksi berakhir puluhan menit yang lalu, pikiran Jinhoo bak diisi hanya oleh oksigen keseluruhan. Tak ada satu pun hal yang dapat ia cerna. Otaknya serasa kosong.

Pria tersebut pun mengindahkan diri untuk pulang ke ‘rumah’ mereka. Melihat adiknya yang sakit-sakitan dan orang tuanya yang semakin beringsut tua semakin membuat hati kecilnya perih tiada tara. Jinhoo luar biasa kalut.

Hingga menit tiap menit berlalu. Mengantarkannya menuju pinggiran sungai kematian yang membentang.

Terlintas di benaknya tentang bagaimana keluarganya merajut hidup untuk esok hari. Ke sepuluh jari milik ayahnya hanya meninggalkan sedikit daging di pangkal jari. Habis dalam kurun dua malam di arena judi. Jari adiknya pun bernasib sama. Hanya menyisakan tetesan darah pekat di barter dengan sekantung obat-obatan untuk memperlambat keberangkatan sang ajal. Ibunya hanya memiliki empat jari saat ini. yang kemungkinan besar akan kembali membusuk akibat gula darah beliau yang tidak bisa dijinakkan lagi.
Seluruh keluarganya kini bertumpu pada Jinhoo. Hanya Jinhoo satu-satunya harapan mereka.

Jinhoo kemudian terduduk di bibir sungai. Derai air begitu merdu di telinganya. Seolah-olah mengajak Jinhoo untuk masuk dan menyelami sungai nan dalam tersebut.

Aliran deras dari hulu seakan menjadi latar suara saat dirinya kembali memandangi jemarinya yang masih meneteskan tetes demi tetes merah pekat berbau anyir. Di luar kendalinya, tawa kemudian menggema ke seluruh area di sekitar sungai kematian.

Kencang sekali. Menertawakan hidup yang mengolok-olok dirinya saat ini.

Sebuah suara kemudian berhasil membisukan tawa milik Jinhoo.

“Woy!”

Seorang pria di seberang sungai memanggil Jinhoo. Rambut merah tua nya kontras sekali dengan langitan awan biru yang menggantung di belakangnya.

Jinhoo sudi memberi sedikit menit miliknya untuk mendengar celoteh pria di seberang sana. Ia bertanya, “Apa ada yang lucu di seberang sana?”

Yang ditanyai malah mengatup bibir rapat-rapat. Enggan menjawab pertanyaan dari orang asing. Terlebih orang tersebut milik sisi seberang, sisi terang Metropolis.

“Hey. Aku tanya, apa ada yang lucu di seberang sana? Jika iya, tolong ceritakan sedikit padaku.”

Jinhoo bergeming. Ada baiknya untuk segera pergi meninggalkan tempat ini, perintah otaknya. Jinhoo beranjak dari duduknya dan siap balik kanan saat suara si pria berambut merah kembali merangsak masuk di pendengarannya.

“Namaku Wooshin dan ceritakanlah tentang hidupmu padaku lain kali!”

***
TENTANG WOOSHIN

Pria berambut merah itu bernama Wooshin.

Setiap sore ia selalu berkunjung ke sungai kematian. Ujarnya menimang-nimang, entah hari tersebut pas untuk disematkan di batu nisannya kelak atau di hari lain. Sudah sebulan lebih Wooshin melakoni hal tidak masuk akal seperti ini.

Meskipun derai air yang sungguh memekakkan telinga, Wooshin tetap bersikeras kepala untuk menceritakan hal tentang dirinya. Walaupun dengan mengerahkan seluruh suara dari pita suaranya sekalipun.

Jinhoo hanya duduk diam mendengarkan.

Si pemuda dari sisi gelap tidak tahu harus membalas cerita si rambut merah dengan apa. Ingin dirinya bersimpati akan kehidupan Wooshin yang begitu miris , toh hidupnya lebih menyedihkan dibandingkan pemuda tersebut. Ingin Jinhoo menceritakan kisah bahagia tentang keluarganya pada Wooshin yang tak pernah merasa kehangatan sosok keluarga, toh ia sudah lupa, kapan terakhir keluarganya bahagia.

Wooshin dan Jinhoo memiliki kehidupan yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Jinhoo si pemuda dari sisi gelap Metropolis yang berstatus sebagai buronan nista, dan Wooshin, si pemuda dari sisi terang. Anak tunggal dari menteri keamanan Negara yang tak pernah merasakan indahnya hidup di dunianya yang terang benderang.

***
TAWARAN DARI SI RAMBUT MERAH

“Tersisa berapa jari lagi?” tanya Wooshin di suatu sore. Bertepatan dengan bulan ke dua sejak Jinhoo memutuskan hidup di Metropolis.

“Dua.”

“Bagaimana bisa? Terakhir kita berbincang, aku sempat mengitung ada lima jari.”

“Dua untuk membiayai penyakit ibuku. Satu untuk membeli makanan sehari-hari.” ujar Jinhoo pasrah.

Wooshin menggeleng heran.

“Kenapa kau tidak meminta bantuan dariku saja?” Jinhoo tercengang, “apa maksudmu?”

“Aku punya pasokan roti berlebih di rumah. Atau kau ingin kalkun? Akan ku seberangkan besok.” Wooshin beucap santai.

Jinhoo menganga mendengar tawaran dari pria si seberang sana. Hari ini Wooshin memakai setelan bercorak polka warna hijau kuning. Topi lebarnya cukup melindungi wajah dari paparan mentari. Tangan kirinya dengan santai memutar tongkat –alat bantu untuk Wooshin tetap berjalan tegak.

“Apakah akan baik-baik saja? Bagaimana jika orang tuamu marah karena pasokan pangan kalian tiba-tiba berkurang begitu saja?”

Wooshin menggeleng cepat, “Tidak mungkin.”

Keduanya terdiam untuk jemang waktu.

“Bahkan orang tuaku tak akan bersedih jika aku tidak pulang kembali ke rumah untuk selamanya.”

***
KEMATIAN

Dengan sebuah lily putih tersemat di kemejanya yang lusuh, tangisan Jinhoo mereda seiring dengan berjalannya waktu.

Ia benci hari ini.

Kenapa Sang Pencipta merebut orang yang ia kasihi? Bahkan tiga orang sekaligus.

Adiknya diumumkan meninggal dini hari tadi. Sedangkan ayah dan ibunya menghilang di balik kabut tebal pukul enam pagi. Padahal hanya satu jam Jinhoo meninggalkan rumah.

Satu jam!

Hanya untuk mengambil makanan dari perahu yang dikirimkan Wooshin tempo hari di bibir sungai kematian. Bagaimana mungkin? Hidup sungguh tidak adil bagi Jinhoo.

Hidupnya hampa.

Matanya memandang kedua jari telunjuk juga sungai kematian secara bergantian.

Pikirannya hanya satu; menyusul sang adik menemui ajalnya.

Berbeda dengan sisi terang yang dilengkapi dengan pagar beton setinggi satu meter, di sisi gelap tak ada pembatas antara darat dengan sang sungai.

Jinhoo meringankan langkahnya. Setapak demi setapak mengantarkannya mendekat menuju kematian, hingga-

“Jinhoo!”

Yang dipanggil lantas tercekat. Kakinya berhenti melangkah. Matanya sempurna tertuju pada sosok si rambut merah di seberang.

“Biarkan aku saja. Kau hiduplah dengan tenang di sisi terang Metropolis!”
Jinhoo tidak mengerti akan kalimat Wooshin barusan. “Cepatlah naik ke perahu itu dan menyeberanglah. Ada hadiah terakhir untukmu… dariku.”

Jinhoo tidak mengelak. Satu persatu titah Wooshin ia laksanakan. Hingga berselang puluh menit keduanya saling berhadapan.

Jinhoo kini menapak tanah hijau nan lapang milik sisi terang. Dari sini, sisi gelap terlihat begitu mengenaskan.

“Jinhoo. Kurasa inilah saatnya.” Wooshin, tanpa menunggu respon dari memotong tangan kirinya tanpa ragu. “Tolong… potongkan tangan kananku.”

“Kau sudah gila?!” Jinhoo berteriak kencang.

“Mungkin,” Wooshin tersenyum miris. “Tak ada lagi gunanya aku hidup, teman.”
Jinhoo menatap Wooshin tidak percaya.

“Gunakan ke sepuluh jariku untuk mencari kebahagiaanmu. Mencari keberadaan kedua orangtuamu.”

“Bagaimana denganmu nantinya?”

Dan Jinhoo tanpa sadar mengayunkan sang belati ke tangan kanan Wooshin. Kedua tangan sempurna terlepas dari induknya. Wooshin bergegas lari menuju bibir sungai dan mengucap kalimat terakhir sebelum menggulingkan diri menuju aliran deras di bawah sana,

“Hari ini adalah hari yang tepat untuk ku ukir di batu nisanku.”

END

a/n : submit fic buat dystopia week u10fi hihi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s