Under The Dim Light

Under The Dim Light

Author Noranitas Cast NCT’s Hansol Genre Fantasy AU Length Ficlet Rating PG-15

Hansol memulai langkahnya dari berjinjit hingga berlari

Hansol sungguh membenci ide ibunya tentang kegiatan mengantarkan-kentang-rebus-untuk-Taeyong yang beliau koarkan setengah jam yang lalu. Jika berujung dengan dirinya lah yang melaksanakan titah tersebut, tak perlu repot-repot Hansol bersandiwara membaca buku tebal ensiklopedi ‘Burung Berparuh Terbesar Sepanjang Masa.’ di ruang tengah rumah. Apakah ibunya tidak memiliki sense untuk menghargai anaknya yang sedang ‘belajar’?

Kenapa harus Hansol jika ada Johnny –sang kembaran yang menganggur sambil memperhatikan kaktus mini di meja dapur?

“Johnny takut keluar saat malam hari. Kau sudah tahu itu ‘kan?” ucapan sang ibu terngiang di kepala Hansol sesaat langkahnya berhasil melewati taman beri kecil milik paman Jung.

Aku juga takut gelapnya malam, Bu! Hardik Hansol dalam hati.

Walaupun dikelubuti rasa takut, sepertinya perjalanan Hansol menuju rumah keluarga Lee lebih didominasi oleh rasa jengkelnya terhadap ibu dan juga Johnny.

Sembari menggerutu, kedua kaki Hansol menjauh dari terangnya lampu pedesaan menuju jalan setapak yang redup. Mengantarnya masuk ke areal danau buatan milik peri kerajaan.

Inilah yang Hansol benci dari kegiatan mengantarkan-kentang-rebus-untuk-Taeyong; gelap dan melewati hutan pinggiran danau yang lembap.

Rasa-rasanya ribuan umpatan sudah terlontar dari mulut Hansol untuk Taeyong. Bisa-bisanya keluarga pemuda berambut pirang keputihan itu bermukim di daerah yang jauh dari peradaban –desa dan bisa hidup bahagia disana? Taeyong hanya tersenyum canggung jika hal ini kerap terjadi.

Ayahku seorang mantan mariner, hyung! Hidupnya tak bisa jauh dari air. Ujar Taeyong di suatu hari.

Huh! Jika teringat rupa bocah pirang itu hatinya ingin selalu berkata kasar.

Hansol berbelok ke jalan setapak yang berada di sebelah kiri. Otaknya terlalu sibuk untuk menoleh ke arah kiri kanan jalan. Tetapi, cahaya redup di sebuah rumah yang berada di tiga per empat jalan perlahan mengusik celoteh panjang Hansol. Dalam sekejap, kakinya berputar haluan. Tak lagi lurus menuju bibir danau –rumah Taeyong- melainkan ke kanan jalan. Menuju rumah kecil dengan binar redup menggoda.

***

Jalan setapak yang kini Hansol pijak memang terasa sangat tidak familiar untuknya.

Taeyong tak pernah mengajaknya bermain-main ke areal ini sebelumnya.
Rasa penasaran sudah mengambil alih diri Hansol sepenuhnya.

Cahaya redup tersebut semakin terang seiring jarak yang semakin terpangkas. Cahaya tersebut berasal dari lilin yang dinyalakan oleh sang empunya rumah di balik jendela utama.

Hansol, dengan keranjang penuh berisi kentang rebus sedikit demi sedikit memangkas jarak antara dirinya dan sang cahaya redup. Dengan hati-hati ia berjinjit pelan. Berharap tidak membangunkan siapa pun yang ia alamatkan sebagai pemilik rumah tersebut.

Ya.

Hansol hanya ingin memastikan sebentar saja. Melirik sedikit ke bagian dalam rumah melewati jendela utama kemudian balik kanan dan kembali menjalankan titah ibunya –mengantarkan sang kentang rebus pada keluarga Lee.

Hanya sesimpel itu tingkat kuriositas yang dimiliki Hansol. Namun-

“Siapa disana?”

-suara seorang wanita membuyarkan rencana awal Hansol.

***

Si pemuda bermata belo bergidik. Datang dari mana suara merdu tersebut?

“Siapa disana?” selang detik, si wanita kembali bertanya.

Hansol menyimpulkan bahwa suara tersebut milik orang yang menghuni rumah tersebut. “Aku tak sengaja melihat cahaya lilin dari kejauhan dan aku kemari. Maaf telah mengganggu malammu.”

Hansol sudah bersiap ingin menjauh dari rumah tersebut di saat jendela utama rumah di buka dari dalam dan menampilkan sesosok wanita rupawan bersurai keemasan.

“Masuklah sebentar.”

Mendengar ajakan tersebut, hati Hansol dilema. Separuh dirinya ingin mengiyakan, lagi, separuh dirinya yang lain justru bersikeras untuk kembali pulang menuju rumah Taeyong.

“Hanya sebentar dan beri aku sedikit hadiah.” suara tersebut kembali terdengar.

Otak Hansol mendadak beku. Seperti idiot, kakinya gesit menuju pintu masuk. Senyum lebar terpampang di wajah tampannya.

Nafsunya menang melawan logika.

***

Hansol berdiri canggung tak jauh dari pintu masuk.

“Maaf merepotkanmu malam-malam begini.” ucap Hansol kikuk sambil menggaruk belakang lehernya sesekali.

“Tidak sama sekali.” wanita itu menjawab dengan posisi memunggungi keberadaan Hansol. Sibuk berkutat dengan segelas minuman di atas meja saji.

“Jika yang kau maksud dengan hadiah adalah ini,” Hansol malu-malu melirik keranjang kentang rebus miliknya, “maka dengan senang hati akan ku bagikan separuh untukmu.”

Wanita tersebut tertawa mendengar ucapan polos yang terlontar dari mulut Hansol.
“Aku ingin hadiah darimu, tapi bukan sesuatu yang harus kau beli, tapi sesuatu yang merupakan something special dari dirimu.” ujarnya panjang lebar, mengundang lipatan muncul di dahi Hansol.

“Maksudmu?”

“Umurmu dua puluh dua tahun, bukan?”

Mata Hansol membulat! Bagaimana wanita ini bisa tahu? Toh ini adalah pertemuan pertama keduanya. Sementara si pemuda kebingungan bukan main, wanita tersebut tersenyum licik. Makan malamnya hari ini seorang perjaka berdarah semanis madu.

***

Hansol lupa bahwa ada satu petuah dari Taeyong yang terselip jauh di dalam otaknya, bersembunyi di antara memori tidak penting di arsip kepalanya,

Jangan pernah berlari menuju sang cahaya redup di malam hari.

END

a/n submit buat nctfi hu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s